Bagaimana Abad Pertengahan dimulai?


Periode Abad Pertengahan tidak dijelaskan secara detail, terutama bagaimana awal dan akhir abad ini. Namun, diyakini berada pada masa setelah Periode Galia Romawi. Tim kami telah mengumpulkan berbagai informasi bagaimana Abad Pertengahan di mulai. Pada blog ini kami akan membahas Karakteristik, Siapa itu Clovis?, Dinasti Carolingienne, Charlemagne dan Hak Istimewa Bangsa Feodal pada masa tersebut.
 
1KARAKTERISTIK ABAD PERTENGAHAN

Abad Pertengahan adalah periode sejarah di Eropa sejak bersatunya kembali daerah bekas kekuasaan Kekaisaran Romawi Barat di bawah prakarsa raja Charlemagne pada abad 5 hingga munculnya monarki-monarki nasional, dimulainya penjelajahan samudra, kebangkitan humanisme, serta Reformasi Protestan dengan dimulainya renaisans pada tahun 1517. Abad Pertengahan merupakan abad kebangkitan religi di Eropa. Pada masa ini agama berkembang dan mempengaruhi hampir seluruh kegiatan manusia, termasuk pemerintahan. Dalam paradigma abad pertengahan, dua wilayah agama dan dunia terpisah total satu dengan yang lain sehingga tidak ada peluang bagi ekspansi satu terhadap yang lain atau pembauran antar keduanya. Seorang manusia kalau tidak melangit' haruslah 'membumi, atau kalau tidak meyakini kekuasaan alam gaib terhadap segala urusan hidupnya, maka dia harus memutuskan hubungan secara total dengan Tuhan dan roh-roh kudus, dan jika dia menghargai jasmani dan urusan materinya maka dia bukan lagi seorang rohaniwan dan berarti telah memutuskan hubungan dengan Tuhan.


 2. FAKTOR PENYEBAB INVASI

Abad Pertengahan penuh dengan kekacauan dan kemunduran sebagai akibat dari invasi bangsa-bangsa barbar (tidak mengenal pendidikan) dan fokus ke bidang pertanian sampai dengan akhir abad X. Dua faktor penyebab invasi di era tersebut adalah:

 - Migrasi : Sejak tahun 395 M wilayah Kekaisaran Romawi, khususnya di sebagian wilayah timur dan barat mengalami krisis politik. Hal tersebut membuat bangsa-bangsa barbar berani menyerang wilayah di sekitar Sunga Danube dan bahkan ke wilayah Italia. Perbatasan di Sungai Rhine juga terbengkalai, dan pusat pemerintahan Galia dipindah ke Arelate. Sebagai akibatnya, orang-orang Jermania menginvasi dengan begitu mudahnya menyeberangi Sungai Rhine dalam jumlah pasukan yang besar pada tahun 405-406 M. Orang-orang bangsa Franka dan Burgundi menempati wilayah barat Sungai Rhine sementara orang Visigoth menduduki Aquitania (Aquitaine). 

- Menjajah: Setelah kekaisaran Romawi Timur runtuh, Bangsa Galia dikuasai oleh Bangsa Frank. Abad V dan VI Masehi merupakan awal Bangsa Galia dikuasai oleh Bangsa Francs. Clovis, raja pertama Bangsa Francs (dia berhasil menyatukan berbagai suku Francs) mengalahkan Syagrius, perwakilan resmi kekaisaran Romawi di wilayah Galia. Clovis juga merupakan raja Katolik pertama, dibaptis pada tahun 497. Ia menikah dengan Clotilda, putri Burgundian yang memeluk agama Katolik Roma. Maka, Paus dan Bangsa Frank menjadi sekutu yang kuat. Kata frank/franc inilah yang kemudian dianggap sebagai asal mula nama France (Negara Prancis) saat ini. Pada tahun 511 Clovis meninggal dan dinasti Merovingien (diambil dari nama kakek Clovis yaitu Merovaeus) melemah.

3. SIAPA ITU CLOVIS?

Clovis (memerintah 481/482–511 M), anak Childeric, menyatukan seluruh wilayah Galia, kecuali daerah bagian tenggara. Clovis telah mulai melakukan konsolidasi bangsa Franka di wilayah Galia utara begitu dirinya naik takhta. Pada 486 M dia mengalahkan Syagrius, penguasa terakhir Romawi di Galia. Selanjutnya dengan dukungan orang-orang Galia-Romawi, dia menduduki wilayah-wilayah antara kekuasaan bangsa Franka di Tournai, wilayah Visigoth dan Burgundi, dan tanah-tanah yang diduduki suku bangsa Franka Ripurian dan Alemanni dan melepaskannya dari kekuasaan Romawi. Ada kemungkinan hal itu berlangsung pada saat dia mengalahkan raja-raja bangsa Salian. Pada tahap selanjutnya dia menyerang orang-orang Jermania lainnya yang berada di Galia. Clovis lalu meneguhkan kekuasaan di wilayah yang didiuduki bangsa Alemanni melalui kemenangan dalam peperangan yang disebut Perang Tolbiacum (Zulpich). Pada akhir tahun 490 M, Clovis telah menguasai wilayah di antara dua sungai, Seine dan Loire yang mencakup Nantes, Rennes, dan Vannes sebelum bergerak menyerbu kerajaan Visigoth. Dia mengalahkan Alaric II di Vouillé pada 507 M, dan dilanjutkan dengan menganeksasi Aquitania yang berada di antara tiga sungai besar, yaitu Sungai the Loire, Rhône, dan Garonne. Tak ketinggalan Novempopulana, wilayah di antara Sungai Garonne dan Pegunungan Pyrenee. 

Wilayah Novempopulana Septem Provinciae - Wikipedia



4. DINASTI CAROLINGIENNE

 1. Pépin le Bref (Pépin si Cebol), pemuka bangsa Francs mendirikan dinasti Carolingienne pada tahun 751. Pépin Si Cebol yang menjadi pemimpin istana secara de facto telah menguasai wilayah Francia (Regnum Francorum) pada saat itu ingin menjadi raja. Dia dinobatkan sebagai raja dengan restu Kepausan. Apa yang dilakukan Pippin ini mengakhiri dominasi kekuasaan klan Merovingian.

2. Dinasti Carolingienne mencapai puncaknya pada tahun 800 dengan penobatan Charlemagne sebagai Kaisar Romawi pertama di Barat dalam lebih dari tiga abad. Kematiannya pada tahun 814 memulai periode fragmentasi dan kemunduran Kekaisaran Carolingienne yang diperpanjang dan pada akhirnya akan mengarah pada evolusi Kerajaan Prancis dan Kekaisaran Romawi Suci. Dinasti Carolingienne mengambil namanya dari Carolus , nama Latin Charles Martel , penguasa de facto Francia dari 718 sampai kematiannya. 


5. CHARLEMAGNE


https://www.britannica.com/biography/Charlemagne

  • Pada saat penobatan Charlemagne, Kerajaan Francs terdiri dari Prancis sekarang, Belgia, Swiss, serta sebagian negeri Belanda sekarang dan Jerman. 
  • Charlemagne menaklukkan Saxony, suatu daerah luas di sebelah utara Jerman. - Wilayah kekuasaannya dibagi menjadi beberapa (1) county, semacam kabupaten / kotamadya dan dipimpin oleh seorang count; (2) marches, wilayah perbatasan yang rawan invasi, berada di bawah pengawasan militer para marquises.
  • Charlemagne berusaha memajukan bangsa Frank melalui pendidikan dan seni. Anak laki-laki dari orang bebas dan budak dilatih untuk menguasai tata cara pelayanan agama Katolik sementara istana menjadi tempat bersekolah para bangsawan.
  • Ia melakukan serbuan ke bagian selatan Jerman dan barat daya Prancis untuk mengukuhkan pengawasannya atas daerah-daerah itu. Untuk mengamankan perbatasan timur kerajaannya, Charlemagne melakukan serentetan penyerbuan terhadap bangsa Avar (berdarah Asia). Charlemagne juga mencoba mengamankan daerahnya di perbatasan bagian selatan. Tahun 778 dia memimpin penyerbuan ke Spanyol. Meskipun tidak berhasil, tetapi Charlemagne mampu mendirikan daerah kekuasaan di Spanyol bagian utara, terkenal dengan sebutan "Spanish March". Wilayah ini mengakui kedaulatan Charlemagne.
  • Charlemagne berhasil menyatukan hampir seluruh Eropa Barat di bawah kekuasaannya. Pada puncak kejayaan, kerajaannya terdiri dari sebagian besar Prancis sekarang, Jerman, Swiss, Austria, Belanda, dan sebagian besar Italia.
  • Penerus Charlemagne, yaitu 3 orang cucunya, Lothair yang berkuasa di wilayah Italia utara, sepanjang lembah Sungai Rhine dan Rhone, Louis dan Charles, yang berkuasa di sebelah timur dan barat wilayah kekuasaan Lothair dengan pembagian sebagai berikut : Louis menguasai wilayah timur yang kemudian berkembang menjadi Jerman modern dan Charles menguasai Frank bagian barat yang berkembang menjadi Prancis modern. Sementara itu, Lothair menguasai wilayah yang sekarang menjadi Italia, Belgia, Belanda, Luxemburg, dan Swiss. 


6. HAK ISTIMEWA BANGSA FEODAL. 

Ketiga orang penerus Charlemagne ini tidak memiliki kemampuan seperti Charlemagne. Mereka memerintah tetapi tidak menguasai. Otoritas kerajaan menurun dan penguasa lokal yang justru berjaya. Hal ini kemudian menyebabkan muncul feodalisme, yaitu sistem sosial di Eropa yang ditandai dengan kekuasaan yang besar di tangan tuan tanah. Hak-hak istimewa seorang bangsawan feodal antara lain :

  1. Menarik pajak 
  2. Meminta bantuan militer orang-orang yang bergantung kepadanya 
  3. Mengadili orang-orang yang bergantung kepadanya di pengadilan 
  4. Mendeklarasikan perang 
  5. Membuat perjanjian dan uang. 
Penyebab munculnya sistem feodalisme adalah mundurnya perdagangan dan industri sehingga tanah menjadi satu-satunya bentuk / simbol kekayaan. Hierarki feodalisme adalah sebagai berikut :

  • Tuan Tanah  utama atau raja sebagai pemilik dan penguasa suatu negara.
  • Lord Besar (duke,marquis,count,viscount,baron) :
A. Duke jika laki-laki, Duchess jika perempuan. Tugas dari seorang Duke adalah  menjadi adipati sebuah wilayah. Wilayah yang dikuasai seorang Duke/Duchess  disebut Duchy atau Dukedom.

B. Marquis jika laki-laki, Marquise jika perempuan. Tugasnya adalah memimpin dan menjaga wilayah perbatasan.

C. Count jika laki-laki, Countess jika perempuan. Mereka memiliki kewenangan terhadap wilayah mereka dan hak untuk pengadilan pada mahkamah provinsi sebagai duta raja. Kedudukannya sama dengan seorang Earl.
          
D. Viscount jika laki-laki, Viscountess jika perempuan. Mereka yang menduduki posisi ini memiliki tugas sebagai wakil count/countess dalam mengurus provinsi.
               
E. Baron jika laki-laki, Baroness jika perempuan. Gelar ini merupakan gelar kehormatan yang kerap diwariskan secara turun temurun.

  • Lord yang lebih rendah (para ksatria)
  • Vassal adalah seseorang yang menjalin hubungan dengan monarki yang berkuasa biasanya dalam bentuk dukungan militer, perlindungan bersama, atau pemberian upeti, dan menerima jaminan dan imbalan tertentu sebagai gantinya.

Selain dari informasi yang kami sampaikan baru saja. Kami juga mendapatkan komentar tambahan dari kelompok lain. Dari komentar tersebut, kami juga akan memaparkan tanggapan dari kelompok kami.



Kelompok 1 : Maria Ruth Hanna Lefaam


komentar kelompok lain


Feodalisme adalah struktur perwakilan kekuasaan sosiopolitik (sosial politik) yang dilaksanakan di kalangan bangsawan/monarki untuk mengendalikan berbagai wilayah yang diklaim melalui pemimpin-pemimpin lokal sebagai mitra kerja sama. Dalam pengertian yang asli, struktur ini diberikan oleh sejarawan pada sistem politik di Eropa pada Abad Pertengahan yang menempatkan kalangan ksatria dan kelas bangsawan lainnya (vassal) sebagai penguasa kawasan atau hak tertentu (hak feodalisme) yang ditunjuk oleh monarki (biasanya raja).


Istilah feodalisme digunakan sejak abad ke-17 dan oleh pelaku feodalisme sendiri, istilah tersebut tidak pernah digunakan. Semenjak tahun 1960-an, para sejarawan memperluas penggunaan istilah ini dengan menambahkan aspek kehidupan sosial para pekerja lahan di lahan yang dikuasai oleh tuan tanah sehingga muncul istilah & masyarakat feodal. Penggunaan istilah feodalisme yang semakin lama semakin berkonotasi negatif oleh para pengkritiknya mengakibatkan istilah ini sudah dianggap tidak membantu memperjelas keadaan dan dianjurkan untuk tidak digunakan tanpa kualifikasi yang jelas pada masa kini.


Abad ke-9 di Eropa Barat adalah masa kekacauan. Selama beberapa waktu, Charlemagne telah menciptakan integrasi masyarakat yang merupakan hasil dari invasi bangsa-bangsa Jerman dan telah mengintegrasikan suku-suku yang berperang di bawah pemerintahan yang terpusat. Akan tetapi, masa kejayaan kekaisaran Charlemagne, seperti yang telah kita pelajari, tidak bertahan lama dan pecah menjadi beberapa kerajaan yang terpisah. Para penerus Charlemagne di Prancis, Jerman, dan Italia hanya menikmati sedikit otoritas mereka. Mereka memerintah, tetapi tidak menguasai. Selama abad kegelapan, sungguh tidak mungkin bagi seorang raja untuk memerintah dengan tegas. Tidak adanya infrastruktur yang memadai dan keterbatasan aksesibilitas untuk berkomunikasi mengakibatkan raja mengalami kesulitan untuk menggerakkan pasukannya dengan cepat dari satu distrik ke distrik lainnya untuk meredam pemberontakan. Bahkan, jika infrastruktur memadai, kekurangan dana akan membuat raja tidak mampu mempertahankan angkatan bersenjatanya yang kuat untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan raja. Terlebih lagi, wilayah-wilayah jajahan yang belum dilebur menjadi sebuah negara, tidak memiliki rasa kesetiaan dan kasih sayang kepada raja. Sedikit sekali dari mereka yang peduli dengan raja yang mereka tidak begitu kenal daripada penguasa-penguasa lokal yang tinggal dekat mereka.



tanggapan kelompok terhadap komentar


Komentar yang telah diberikan menjelaskan tentang feodalisme sebagai struktur perwakilan kekuasaan sosiopolitik yang diterapkan di kalangan bangsawan/monarki pada Abad Pertengahan di Eropa. Namun, ada beberapa tambahan informasi yang dapat diberikan untuk melengkapi pemahaman tentang feodalisme.

1, Struktur Feodal: Dalam sistem feodal, seorang bangsawan (biasanya seorang raja) memberikan sebidang tanah kepada seorang ksatria atau bangsawan lainnya yang disebut vassal. Vassal ini kemudian akan memberikan loyalitas dan jasa militer kepada bangsawan yang memberikan tanah tersebut. Struktur ini menciptakan hubungan saling ketergantungan di antara para bangsawan dan menciptakan hierarki sosial yang ketat.

2. Kewajiban dan Hak Feodal: Dalam pertukaran pemberian tanah, vassal memiliki kewajiban untuk memberikan bantuan militer, nasihat, dan hukum kepada bangsawan yang memberikan tanah tersebut. Mereka juga dapat meminta perlindungan dan bimbingan dari bangsawan tersebut. Sistem ini didasarkan pada prinsip pemberian dan penerimaan, di mana kedua belah pihak memiliki tanggung jawab dan hak-hak tertentu.

3. Pertumbuhan Kekuatan Feodal: Pada Abad Pertengahan, sistem feodal menjadi landasan utama kekuasaan politik dan sosial di Eropa. Bangsawan memiliki wilayah yang dikuasai secara feodal, dan mereka menjalankan kekuasaan mereka dengan bantuan vassal dan sistem ketergantungan yang saling berhubungan.


Sumber:


Duby, G. (1977). The Three Orders: Feudal Society Imagined. University of Chicago Press.

Bloch, M. (1961). Feudal Society: Vol 1: The Growth and Ties of Dependence. University of Chicago Press.


Kelompok 3 : Dinda Denisa Febriani


komentar kelompok lain

Hal-hal Yang Terjadi Pada Masa Abad Pertengahan


Charlemagne merupakan salah satu tokoh bersejarah bagi warga Eropa selain ambisinya menaklukan wilayah Eropa, Charlemagne berhasil memperluas wilayah taklukannya di bawah kekaisaran romawi suci yang pada masa ini mencakup wilayah Eropa Barat dan Eropa Tengah.


Charlemagne selalu dihubung-hubungkan dengan perdamaian Eropa. Bukan hanya dihubung-hubungkan dengan perdamaian Eropa, Perintah pembunuhan massal Kekaisaran Charlemagne menjadi propaganda nazi.


Charlemagne berperang dengan bangsa Sakson (kini Jerman barat laut) selama sekitar tiga dekade. Yang paling banyak dicatat adalah perintah pembantaiannya terhadap 4.500 orang Sakson pada tahun 782. Di dalam kekuasaannya, penyembah berhala (pagan) yang tidak ngin memeluk Kristen juga dibunuh. Charlemagne yang disebut sebagai simbol superioritas Jerman. Satuan tentara Prancis yang tergabung dalam Schutzstaffel (SS) Jerman selama Perang Dunia II diberi nama Resimen Charlemagne. Kematian Charlemagne juga menjadi salah satu penyebab runtuhnya kekaisaran Charlemagne. Setelah kematian Charlemagne, kekaisarannya tidak bertahan lama. Selain tidak ada kaisar pengganti yang memiliki kewibawaan seperti Charlemagne, tradisi bangsa Franka yang mewariskan kekuasaan ke anak-anak lelaki. Louis Si Bijak, satu-satunya anak lelaki dan pengganti Charlemagne memerintah selama sekitar 26 tahun. Dia meninggal pada 840 dan kekuasaan dibagi untuk ketiga anak lelakinya. Maka, tidak lebih dari satu abad, Kekaisaran Charlemagne runtuh.


Permasalahan Kekaisaran Pada Masa Kekaisaran Louis le Pieux

Kesatuan kekaisaran yang tampak dari luar pada akhir pemerintahan Charlemagne dan awal pemerintahan Louis le Pieux terdapat faktor-faktor penting penyebab kelemahan dan perpecahan.

* Unsur pertama yaitu wilayah kekaisaran yang amat luas, keanekaragaman bangsa-bangsanya, bahasa-bahasa nasionalnya dan adat kebiasaan-nya.

* Unsur kedua yaitu sesudah Charlemagne, pemimpin semakin tidak mampu menekan ambisi para pembesar, yang memanfaatkan institusi-institusi Dinasti Carolingia yang utama bagi keuntungan mereka sendiri.


Pada awalnya Louis le Pieux mencoba mempertahankan kesatuan kekaisaran dengan menyerahkan gelar kaisar kepada putra sulungnya Lothaire, dan hanya memberikan kepada kedua orang putranya yang lain kerajaan-kerajan yang lebih kecil, yaitu Aquitaine untuk Pépin dan Bayern untuk Louis. Ketidakpuasan kedua putranya yang ingin memperbesar bagian mereka serta kelahiran putra ke-4, Charles – yang nantinya bergelar Charles le Chauve – menimbulkan masalah besar.


Pada tahun 838, ketika Pépin d’Aquitaine wafat, putranya, Pépin II, disingkirkan demi Charles. Akhirnya, setelah kematian Louis le Pieux (840) pecahlah perang di antara tiga bersaudara yang masih hidup itu. Charles yang menguasai Neustrie dan Aquitaine, bergabung dengan Louis yang menguasai Germania, melawan saudara sulung mereka Kaisar Lothaire.


Persekutuan tersebut dilakukan melalui sumpah yang khidmat di Strasbourg. Sumpah Strasbourg ini (842) adalah teks pertama yang terekam dalam bahasa kita. Louis dan Charles kemudian merebut Aachen dan memaksa Lothaire melakukan perundingan yang menghasilkan perjanjian Verdun tahun berikutnya.


Perjanjian Verdun (843) merupakan perjanjian pertama yang terjadi di Eropa sekaligus merupakan akta kelahiran negara Prancis.


Gereja Pada Zaman Abad Pertengahan

Pada akhir abad ke-8 dan awal ke-9 masehi, gereja memiliki hutang budi pada Carolingian karena berkatnya Paus Leo III berhasil diselamatkan dari bangsa Lombard. Carolingian juga mendukung penyebaran injil di Germania, memberikan hak istimewa kemandirian tanah gereja. Namun, Carolingian meminta banyak imbalan kepada gereja seperti, menuntut gereja untuk melakukan doa-doa yang mantap untuk keselamatan kaisar dan kekaisaran, menuntut gereja untuk berkontribusi terhadap militer dan keuangan. Tanpa ragu-ragu Carolingian juga mengeruk harta gereja dengan mengangkat biara dari luar gereja yang menerima penghasilan dari biara tanpa pernah menjalankan tugas spiritualnya.


Seiring berjalannya waktu, salah satu aspirasi terpenting Charlemagne adalah menghidupkan kembali keilmuan di Kekaisaran Romawi Suci. Charlemagne membentuk kembali ketertiban dan perdamaian serta reorganisasi gereja. Untuk meningkatkan para pendetanya, Charlemagne mencari guru-guru untuk mengajari para biara-biara. Sejak saat itu di Kekaisaran Romawi Suci, semakin banyak pendeta terpelajar yang mempelajari bahasa Latin dan sastra Latin klasik dengan cermat. Di antara mereka terdapat berbagai ilmuwan, penyair, sejarawan, teolog, dan filsuf yang pencapaian intelektualnya dapat dibandingkan dengan karya penulis antik akhir. Kebangkitan klasik ini, yang disebut "Renaisans Carolingian".



tanggapan kelompok terhadap komentar


Kami akan memaparkan tanggapan berdasarkan komentar yang telah diberikan.

1. Perlu diklarifikasi bahwa hubungan antara Charlemagne dan perdamaian Eropa tidak terlalu jelas dalam konteks sejarah. Charlemagne dikenal sebagai seorang pemimpin militer yang gigih dan berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, namun tidak ada bukti langsung yang menghubungkannya secara khusus dengan perdamaian Eropa.

2. Terkait perintah pembunuhan massal yang disebutkan, informasi yang menyatakan bahwa perintah pembantaiannya terhadap 4.500 orang Sakson pada tahun 782 adalah benar. Charlemagne memimpin kampanye militer yang keras terhadap suku-suku non-Kristen di wilayah tersebut. Namun, perlu diingat bahwa tindakan semacam itu adalah umum pada masa tersebut, di mana penaklukan dan penindasan suku-suku non-Kristen dilakukan oleh banyak pemimpin politik dan agama.

3. Klaim bahwa Charlemagne dianggap sebagai simbol superioritas Jerman dan bahwa satuan tentara Prancis dalam SS Jerman selama Perang Dunia II diberi nama Resimen Charlemagne perlu diperiksa lebih lanjut. Saya tidak dapat menemukan sumber yang mendukung klaim ini.

4. Penyebab runtuhnya Kekaisaran Charlemagne setelah kematian Charlemagne sendiri lebih kompleks daripada sekadar tidak ada kaisar pengganti yang memiliki kewibawaan seperti Charlemagne. Faktor-faktor seperti perselisihan suksesi, pertempuran internal antara anggota keluarga Carolingian, dan tekanan dari suku-suku dan kerajaan tetangga juga memainkan peran penting dalam keruntuhan kekaisaran.

5. Mengenai masalah kekaisaran pada masa pemerintahan Louis le Pieux, faktor-faktor yang disebutkan memang berkontribusi terhadap kelemahan dan perpecahan kekaisaran. Wilayah yang luas dan beragam, serta ambisi para pembesar yang memanfaatkan institusi-institusi Dinasti Carolingian, merupakan tantangan yang sulit dihadapi oleh pemimpin saat itu.

6. Mengenai peranan gereja pada zaman Abad Pertengahan, Carolingian memang memberikan dukungan kepada gereja dalam berbagai bentuk, namun juga meminta imbalan dan hak istimewa dari gereja. Hubungan antara gereja dan negara pada masa itu didasarkan pada prinsip saling ketergantungan dan kerjasama yang kompleks.

7. Renaisans Carolingian, yang disebut sebagai kebangkitan klasik, adalah periode di mana terjadi peningkatan dalam kegiatan intelektual, kesusastraan, dan pembaharuan budaya di Kekaisaran Romawi Suci di bawah kepemimpinan Charlemagne. Charlemagne mempromosikan pendidikan, termasuk memperoleh guru-guru untuk biara-biara, yang menyebabkan peningkatan dalam pengetahuan dan keilmuan di kalangan pendeta dan cendekiawan pada masa tersebut.


Sumber:


Encyclopedia Britannica. (n.d.). Charlemagne




Kelompok 4 : Maritza Inas Tasyakurina


komentar kelompok lain


Bangsa Franka/Francs

Bangsa Franka merupakan masyarakat Germania yang bermigrasi dari Eropa Utara ke Galia. Disinilah nama dari negara Prancis berasal. Terdapat dua dinasti yang berada dibawah pimpinan Bangsa Frank yaitu Dinasti Merovingien dan Dinasti Carolingienne.


Dinasti Merovingien

Raja pertama Dinasti Merovingien adalah Clovis I yang merupakan anak dari Childeric I. Nama Dinasti Merovingien diambil cari kakek Clovis I yaitu Merovech, yang merupakan raja Franka Sali. Dinasti ini bertahan dibawah pimpinan Clovis I selama 200 tahun.


Dinasti Carolingienne

Didirikan pada tahun 751 oleh Pépin le Bref (Pépin si Cebol) yang selanjutnya dinyatakan sebagai raja Bangsa Franka. Dinasti Merovingien berakhir pada masa ini. Pépin meninggal pada tahun 768.

Dinasti carolingienne memiliki menerus tahta yaitu Charlemagne. Charlemagne merupakan anak dari Pépin le Bref. Selain Charlemagne, terdapat satu lagi anak dari Pépin le Bref yaitu Carloman. Kedua anak Pépin le Bref memulai perebutan tahta dan Carloman meninggal lalu menyisakan Charlemagne sebagai raja selanjutnya. Pada saat penobatan Charlemagne, kerajaan francs terdiri dari beberapa wilayah yang sekarang sudah menjadi Prancis, Belgia, Swiss, sebagian wilayah Belanda, dan Jerman.


Fakta Tentang Charlemagne:

- Charlemagne menjadi satu satunya penerus tahta Pépin saat berusia 24 tahun di tahun 771, tepat setelah saudaranya meninggal.

- Charlemagne menaklukan suatu daerah luas di utara jerman yaitu Saxony. Ia sempat memaksa para warga Saxony untuk menganut agama Kristen, dan memberi ancaman berupa hukuman mati bagi mereka yang tidak mau dibaptis atau mengikuti tradisi keagamaan yang lain.

- Charlemagne pernah melakukan penyerbuan ke bagian selatan Jerman dan bagian barat daya Prancis untuk mengukuhkan pengawasannya atas daerah-daerah tersebut. Untuk mengamankan perbatasan timur kerajaan Frank, ia melakukan penyerbuan terhadap Bangsa Avar. Bangsa Avar merupakan orang berdarah asia dan ada memiliki ceritanya tersendiri dengan Bangsa Hun, mereka menguasai daerah yang sekarang menjadi Hongaria dan Yugoslavia. Bangsa Avar pernah menyerbu wilayah yang berisi Suku Hun dan Slav yaitu wilayah timur romawi di Balkan, yang sekarang menjadi Eropa Timur. Charlemagne melakukan penyerbuan ketika Bangsa Avar juga sedang melemah akibat adanya perang saudara yang dipimpin para raja Avar. 

Pemerintahan Charlemagne diteruskan oleh ketiga cucunya yaitu Lothair, Louis, Charles. Semenjak ketiga cucu Charlemagne memerintah muncul sistem feodalisme yang merupakan sistem sosial di Eropa yang ditandai dengan kekuasaan yang besar di tangan tuan tanah. Para Tuan Tanah atau The Kings sangat bebas berkuasa dikarenakan pada masa itu The Kings dianggap keturunan Tuhan dan semua orang menganggap menuruti perintah The Kings berarti menuruti perintah Tuhan. Hak-hak istimewa seorang bagsawan feodal antara lain:

● Menarik pajak

● Meminta bantuan militer kepada orang-orang yang bergantung padanya

● Mengadili orang-orang yang bergantung kepadanya di pengadilan

● Mendeklarasi perang

● Membuat perjanjian dan uang


Hierarki Feodalisme:

● Tuan tanah utama atau raja (King)

● Uskup (Bishop)

● Lord besar, seperti bangsawan ( Duke, Marquis, Count, Baron, Nobles )

● Lord yang lebih rendah, seperti para ksatria (Knight)

● Pengikut (Vassal)

● Petani dan budak (Peasant and Serfs)


Para tuan tanah utama percaya bahwa mereka mendapat amanah memerintah langsung dari Tuhan yang bisa disebut hak ilahi atau divine right. Para Lord Besar dan Baron mengucap sumpah untuk selalu setia kepada para tuan tanah utama atau The Kings. Sekitar 90% masyarakat merupakan petani dan budak, mereka bekerja dari umur yang sangat muda dan juga meninggal di usia muda (sebelum 30 tahun) dikarenakan mereka percaya bahwa hasil kerja mereka ditujukan untuk anak-anak Tuhan dan mereka rela bekerja bagaimanapun untuk Tuhan. Kekuatan dan kekuasaan utama di pengadilan dipegang oleh The Lords, mereka berhak berkuasa atas pengambilan keputusan terhadap hukuman atas tindak kriminal.



tanggapan kelompok terhadap komentar


Komentar dari kelompok 4 tersebut memberikan gambaran umum tentang BangsaFranka, Dinasti Merovingien, Dinasti Carolingienne, dan peran penting Charlemagne dalam sejarah Eropa. Namun, terdapat beberapa tambahan informasi dan tanggapan yang dapat diberikan:


1. Peran Bangsa Franka: Bangsa Franka merupakan salah satu suku bangsa Jermanik yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Eropa. Migrasi mereka dari Eropa Utara ke Galia (sekarang Prancis) membawa perubahan politik dan budaya yang signifikan.

2. Dinasti Merovingien: Dinasti Merovingien, yang didirikan oleh Clovis I, merupakan dinasti pertama dari Bangsa Franka. Dinasti ini memegang kekuasaan selama sekitar 200 tahun sebelum digantikan oleh Dinasti Carolingienne.

3. Dinasti Carolingienne: Dinasti Carolingienne, yang didirikan oleh Pépin le Bref, menggantikan Dinasti Merovingien dan memerintah sebagai raja-raja Bangsa Franka. Charlemagne adalah salah satu tokoh terkenal dari dinasti ini dan memiliki peran penting dalam memperluas wilayah kekaisaran dan mempromosikan kebangkitan keilmuan.

4. Penaklukan dan konversi oleh Charlemagne: Charlemagne berhasil menaklukkan wilayah luas, termasuk melawan suku-suku seperti Saxon dan Avar. Selama penaklukan, ia memaksa penduduk untuk menganut agama Kristen, dengan ancaman hukuman mati bagi mereka yang menolak.

5. Sistem feodalisme: Pada masa pemerintahan Charlemagne dan penerusnya, sistem feodalisme mulai berkembang di Eropa. Sistem ini didasarkan pada hubungan antara tuan tanah dan vassal, di mana tuan tanah memberikan tanah dan perlindungan kepada vassal dalam pertukaran atas loyalitas dan pelayanan militer.


Sumber:


"Charlemagne." Britannica. Diakses pada 24 Mei 2023, dari https://www.britannica.com/biography/Charlemagne

"Frank." Britannica. Diakses pada 24 Mei 2023, dari https://www.britannica.com/topic/Frank-people

"Feudalism." Britannica. Diakses pada 24 Mei 2023, dari https://www.britannica.com/topic/feudalism



Kelompok 5 : Baby Devina Viendra


komentar kelompok lain


Periodisasi Abad Pertengahan

Dilansir dari Wikipedia, periodisasi abad pertengahan tidak disebutkan secara spesifik. Banyak berbagai pendapat terkait awal dan berakhirnya abad pertengahan ini. Namun, secara umum para ahli sejarah menyatakan abad pertengahan ditandai dengan runtuhnya kekuasan barat sampai dengan renaissance. Setiap negara pun juga mempunyai pendapat sendiri terkait berakhirnya masa abad pertengahan. Seperti salah satunya, ahli sejarah Spanyol menganggap masa abad pertengahan berakhir ketika Raja Ferdinand II meninggal, sedangkan ahli sejarah Inggris menganggap Perang Bosworth sebagai akhir dari abad pertengahan.


➢ Keterlibatan Bangsa Frank di Perang Salib

Dalam Jurnal PPM IAIN tentang perang salib dan dampaknya. Ada keterlibatan Bangsa Frank pada Perang Salib, yaitu pada muslihat Bizantium yang mengundang Bangsa Frank untuk menginvasi Suriah dan Palestina. Namun, Bizantium mengatakan hal yang berbanding terbalik. Mereka mengatakan bahwa Bangsa Frank lah yang menginvasi Suriah dan karena tingginya semangat Bangsa Frank dalam merebut kembali tanah suci, Bizantium akhirnya mengalah dan membiarkan Bangsa Frank menginvasi wilayah tersebut.


➢ Masa Pemerintahan Raja Charlemagne

Begitu banyak pencapaian yang diraih oleh Charlemagne, termasuk dalam menyatukan sebagian besar Eropa Barat untuk pertama kalinya sejak zaman Romawi klasik. Termasuk menyatukan beberapa daerah Eropa yang sebelumnya belum pernah dikuasai oleh Romawi maupun Bangsa Frank. Maka dari situlah, Charlemagne mendapat julukan sebagai Bapak Eropa. 


Charlemagne menjadi penguasa seutuhnya di dinasti tersebut setelah meninggalnya Colman, saudara laki-lakinya. Di awal pemerintahannya itu Charlemagne menetapkan kekaisarannya menjadi kekaisaran katolik. Maka beliau memiliki ambisi untuk memperluas wilayah kekuasaan katoliknya tersebut. Dilansir dalam situs web history.com, karena itu lah juga Charlemagne mendapat reputasi buruk karena kekejamannya. Beliau pernah melakukan pertumpahan darah selama tiga dekade melawan Bangsa Saxon. Kemudian melakukan pembantaian Verden dan dilaporkan telah memerintahkan pembantaian terhadap 4.500 orang Saxon dikarenakan mereka tidak mau masuk ke dalam Katolik maupun mengikuti tradisinya.


Dengan banyak pencapaian dan kekuatannya dalam mempertahankan serta memperluas daerah kekuasaannya tersebut dalam situs web yang sama, yaitu dalam history.com. Charlemagne menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh yang mempunyai ambisi yang sama dalam menaklukan Eropa, yaitu Napoleon Bonaparte dan Adolf Hitler.


➢ Perebutan Wilayah Kekuasaan

Pada saat Charlemagne meninggal dunia, maka tahta diwariskan kepada anaknya yang bernama Louis Ler Le Pieux yang merupakan pewaris satu-satunya. Kemudian pada tahun 840, Louis Ler Le Pieux meninggal dunia yang kemudian kekuasaan berpindah tangan kepada keempat anaknya yaitu Lothaire Ler, Pépin, Charles II le Chauve dan Louis II le Germanique. Sayangnya pada saat itu Pépin meninggal dunia di tahun 383 dan tahta diteruskan oleh ketiga saudaranya. Charles II le Chauve dan Louis II le Germanique berusaha untuk mengambil wilayah kekuasaan milik Lothaire Ler yang pada akhirnya mereka berdua dapat merebut wilayah kekuasaan milik Lothair Ler dan memaksanya untuk berunding dan menghasilkan Perundingan Verdun yang berisikan bahwa Lothaire Ler mendapatkan FRANCIE MÉDIANE yang merupakan Lothringen, Lorraine dan Bourgogne (bagian dari Prancis) serta Lombardie (bagian Italia). Namun eksistensi FRANCIE MÉDIANE tidak berlangsung lama karena meninggalnya Lothaire Ler pada tahun 885 dan FRANCIE MÉDIANE dibagi kepada ketiga anaknya yaitu Louis II, Lothaire II dan Charles II sesuai yang telah disepakati di dalam Perjanjian Prüm pada tahun 855.



tanggapan kelompok terhadap komentar


Berdasarkan komentar dari kelompok 5, kami dapat memberikan tanggapan sebagai berikut :

1. Periodisasi Abad Pertengahan: Meskipun tidak ada konsensus yang jelas mengenai periode tepat dari Abad Pertengahan, umumnya dianggap dimulai setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi Barat pada abad ke-5 dan berakhir dengan munculnya Renaissance pada abad ke-15. Periode ini ditandai dengan perubahan sosial, politik, dan agama yang signifikan di Eropa.

2. Keterlibatan Bangsa Frank di Perang Salib: Keterlibatan Bangsa Frank dalam Perang Salib merupakan hasil dari campur tangan Kekaisaran Bizantium. Pada awalnya, Bizantium mengundang Bangsa Frank untuk menginvasi Suriah dan Palestina, tetapi versi sejarah lain mengatakan bahwa Bangsa Frank Lah yang memulai invasi tersebut karena semangat mereka untuk merebut kembali tanah suci.

3. Masa Pemerintahan Raja Charlemagne: Charlemagne, juga dikenal sebagai Charles the Great, memerintah sebagai Raja Frankia dari tahun 768 hingga 814. Selama masa pemerintahannya, ia berhasil menyatukan sebagian besar Eropa Barat dan memperluas wilayah kekuasaannya. Charlemagne dianggap sebagai salah satu tokoh terpenting dalam sejarah Eropa dan sering disebut sebagai "Bapak Eropa".

  1. 4. Perebutan Wilayah Kekuasaan: Setelah kematian Charlemagne, kekuasaan diwariskan kepada anaknya, Louis the Pious. Namun, setelah kematiannya, terjadi perselisihan antara ketiga putranya, yang mengakibatkan Perjanjian Verdun pada tahun 843. Perjanjian ini membagi Kekaisaran Carolingian menjadi tiga bagian yang menjadi cikal bakal negara-negara Eropa modern seperti Prancis, Jerman, dan Italia.


Sumber: 


Encyclopaedia Britannica. (n.d.). Middle Ages. Diakses pada 24 Mei 2023, dari https://www.britannica.com/event/Middle-Ages 

Runciman, S. (1951). A History of the Crusades. Vol. 1: The First Crusade and the Foundation of the Kingdom of Jerusalem. Cambridge University Press

McKitterick, R. (2008). Charlemagne: The Formation of a European Identity. Cambridge University Press





Kelompok 6 : Yogatriwuri Alfiamawi Cahyaning Marislawati


komentar kelompok lain


Dinasti Carolingienne


Sistem Feodalisme dalam Kehidupan Masyarakat

Dalam sistem feodalisme, para seigneurs atau suzerains yang mempunyai vassaux juga mencari perlindungan pada seigneurs yang dianggap lebih kuat dan kaya. Demikian seterusnya secara bertingkat sampai pada tingkat yang paling tinggi, yaitu le grand seigneur atau yang dipertuan agung. Susunan masyarakat tampak seperti sebuah bangunan Piramida. Hanya satu kelompok saja yang tidak bergantung pada siapa pun atau masuk ke dalam sistem tersebut, yaitu raja yang bertakhta di paling atas susunan hierarkis masyarakat tersebut.

Pada masa itu, kekayaan dinilai menurut luas areal tanah yang dikuasai seorang seigneur. Bila ia bermurah hati, dalam arti mudah dan banyak memberi serta menggandakan fief yang diberikan sebagai balas jasa kepada seorang vassal, dengan sendirinya berarti bertambah pula vassal yang tunduk kepadanya. Namun di lain sisi bisa saja muncul masalah baru, yaitu tidak adanya lagi tanah yang tersisa yang dimiliki sang raja atau seigneur, bila masih tersisa luasnya menjadi berkurang. Hal ini dapat berakibat fatal, para vassaux mungkin saja tidak mau tunduk lagi kepadanya; mereka mengingkari janji setia yang diucapkannya pada waktu pembantaian. Hal ini berarti sang seigneur tidak lagi mempunyai prajurit atau kesatria dalam jumlah yang cukup. Ia pun tidak memiliki kekuatan militer dalam menghadapi serangan musuh yang mungkin saja tiba-tiba datang dengan kekuatan yang lebih besar. Itulah sebabnya selama abad pertengahan banyak terjadi peperangan diantara vassaux dan seigneurs; peperangan diantara mereka disebut perang feodal. Menurut pandangan para seigneurs, berperang merupakan kegiatan (olahraga) yang paling indah dibandingkan dengan berburu karena mereka masih hidup dalam suasana, perilaku, dan mental (koboi) dengan tindakan-tindakan kasar.


Situasi dan Kondisi Masyarakat di Bawah Sistem Pemerintahan Baru

Dengan kondisi keamanan yang rawan, sulit bagi mereka untuk bekerja di ladang maupun melakukan transaksi perdagangan. Keadaan ini memaksa mereka untuk bergantung kepada raja atau seigneur yang berkuasa di wilayah mereka. Maka dari hal ini terbentuklah simbiosis mutualisme dari petani yang sadar akan keadaan ini dan menerima serta menganggap para seigneurs sebagai seseorang yang diberikan kekuatan ilahiah dalam melindungi mereka. Itu sebabnya mereka juga mendukung tradisi penobatan raja yang dianggap suatu prosesi suci. Prosesi penobatan seorang raja baru dilakukan di Kota Reims dengan tata cara religius yang dipimpin oleh seorang petinggi agama. Upacara ini menempatkan raja jauh di atas semua warga lain dan rakyatnya, sekaligus menjadikannya sebagai perantara pemimpin tertinggi di dunia, akhirat atau Tuhan, dan semua rakyat bangsa Perancis.


Mulai abad XI, sistem administrasi pemerintahan yang telah diterapkan oleh Raja Charlemagne dan keturunannya tidak lagi dipertahankan; satu sistem baru menggantikan yang lama. Gelar baru diberikan kepada pejabat yang ditunjuk, yaitu officiers royaux atau pejabat kerajaan. Pengaruh mereka secara perlahan tetapi mantap bertambah besar, baik terhadap penguasa maupun dalam masyarakat. Kelas sosial inilah yang merupakan kelas menengah yang disebut kelas "borjuis" dan merupakan saingan kelas sosial yang lebih tinggi derajatnya, yaitu kelas bangsawan yang mulai menurun baik pamor maupun pengaruhnya.



tanggapan kelompok terhadap komentar


Berdasarkan komentar kelompok 6, kami dapat memberikan tanggapan sebagai berikut,

  1. 1. Sistem Feodalisme: Sistem feodalisme adalah sistem sosial, politik, dan ekonomi yang dominan di Eropa pada Abad Pertengahan. Dalam sistem ini, kekuasaan dan kepemilikan tanah merupakan faktor utama dalam menentukan status dan hierarki sosial. Seorang seigneur atau suzerain memberikan perlindungan dan tanah kepada vassal atau pengikutnya, dan vassal memberikan jasa dan kesetiaan kepada seigneur tersebut. 

2. Perang Feodal: Perang feodal adalah konflik yang terjadi antara seigneur dan vassal dalam rangka memperebutkan kekuasaan dan tanah. Keterbatasan tanah dapat menyebabkan perselisihan dan persaingan antara seigneur dan vassal. Peperangan tersebut merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat feodal dan sering kali dilakukan oleh para bangsawan sebagai bentuk pengakuan, kekuasaan, dan keberanian mereka.

3. Kondisi Masyarakat dan Sistem Pemerintahan Baru: Pada Abad Pertengahan, keadaan keamanan yang kurang stabil menyulitkan rakyat untuk beraktivitas dan bekerja. Masyarakat tergantung pada perlindungan dan kekuasaan raja atau seigneur yang berkuasa di wilayah mereka. Hal ini menghasilkan hubungan simbiosis mutualisme antara petani dan seigneur, di mana petani memberikan dukungan dan pengakuan kepada seigneur sebagai pelindung mereka, sementara seigneur memberikan perlindungan dan keamanan.

4. Sistem Administrasi Pemerintahan Baru: Pada abad ke-11, terjadi perubahan dalam sistem administrasi pemerintahan. Sistem administrasi yang diterapkan oleh Raja Charlemagne dan keturunannya mulai ditinggalkan, dan digantikan oleh sistem yang baru. Pejabat-pejabat kerajaan, yang dikenal sebagai officiers royaux, memperoleh pengaruh yang semakin besar dalam pemerintahan dan masyarakat. Kelas sosial menengah, yang dikenal sebagai "borjuis," muncul sebagai saingan bagi kelas bangsawan yang mulai kehilangan pamor dan pengaruhnya.


Sumber:


Duby, G. (1974). The Three Orders: Feudal Society Imagined. University of Chicago Press

Keen, M. (1999). The Pelican History of Medieval Europe. Penguin

Duby, G. (1978). Rural Economy and Country Life in the Medieval West. Columbia University Press

Bloch, M. (1961). Feudal Society. University of Chicago Press



Kelompok 7 : Aradia Zulfa


komentar kelompok lain


Charlemagne atau biasa dikenal juga dengan Charles yang Agung merupakan salah satu raja termasyhur yang pernah berkuasa di muka bumi ini. Ia lahir pada tahun 742 Masehi dengan ayahnya yang bernama Pepin si cebol, sementara kakeknya yaitu Charles Martel merupakan penguasa dari bangsa Frank yang cukup berpengaruh pada masanya.


Ayahnya, Pippin si cobol, adalah walikota istana, seorang pejabat yang melayani raja Merovingian tetapi sebenarnya memegang kekuasaan efektif atas kerajaan Frank yang luas. Sedikit yang diketahui tentang masa muda Charlemagne menunjukkan bahwa dia menerima pelatihan praktis untuk kepemimpinan dengan berpartisipasi dalam kegiatan politik, sosial, dan militer yang terkait dengan istana ayahnya


Pada tahun 751, dengan persetujuan kepausan, Pippin merebut tahta Frank dari raja Merovingian terakhir, Childeric III. Setelah bertemu dengan Paus Stephen II di istana kerajaan Ponthion pada tahun 753–754, Pippin menjalin aliansi dengan paus dengan berkomitmen untuk melindungi Roma sebagai imbalan atas sanksi kepausan atas hak dinasti Pippin atas takhta Franka. Pippin juga melakukan intervensi militer di Italia pada tahun 755 dan 756 untuk menahan ancaman Lombardia ke Roma, dan dalam apa yang disebut Donasi Pippin pada tahun 756 ia menganugerahkan kepada kepausan sebuah blok wilayah yang membentang melintasi Italia tengah yang membentuk dasar entitas politik baru. , Negara Kepausan, yang diperintah oleh paus.


Ketika Pippin meninggal pada tahun 768, kerajaannya dibagi menurut adat Frank antara Charlemagne dan saudaranya, Carloman.


Persaingan antara dua bersaudara itu segera mengancam persatuan kerajaan Frank. Mencari keuntungan atas saudaranya, Charlemagne membentuk aliansi dengan Desiderius, raja Lombardia, menerima putri raja sebagai istrinya untuk menyegel perjanjian yang mengancam keseimbangan rapuh yang telah dibangun di Italia oleh aliansi Pippin dengan kepausan. Kematian Carloman pada tahun 771 mengakhiri krisis yang memuncak, dan Charlemagne, mengabaikan hak-hak ahli waris Carloman, mengambil kendali atas seluruh kerajaan Frank.


Tiga dekade pertama pemerintahan Charlemagne didominasi oleh kampanye militer, yang didorong oleh berbagai faktor: kebutuhan untuk mempertahankan kerajaannya dari musuh eksternal dan separatis internal, keinginan untuk penaklukan dan barang rampasan, rasa tajam akan peluang yang ditawarkan oleh perubahan. hubungan kekuasaan, dan dorongan untuk menyebarkan agama Kristen. Penampilannya di medan perang membuatnya terkenal sebagai raja pejuang dalam tradisi Frank, orang yang akan menjadikan kaum Frank sebagai kekuatan di dunia yang pernah ada di Kekaisaran Romawi.


Selama pemerintahannya Charlemagne memelihara hubungan akrab dengan Paus. Tetapi dalam masa hidupnya jelas bukan Paus,yang menguasai Charlemagne, melainkan Charlemagne yang menguasai Paus.


Pertempuran Charlemagne yang paling sulit ditaklukan adalah penaklukan Saxony, wilayah luas Jerman utara, yang membutuhkan tidak kurang dari delapan belas pertempuran.


Yang pertama pada tahun 772 dan yang terakhir pada tahun 804. Faktor agama menjadi alasan mengapa perang melawan Saxon begitu sengit dan berdarah.


Orang Saxon adalah orang kafir - tidak beragama - dan Charlemagne memaksa mereka untuk masuk Kristen. Mereka yang menolak baptisan atau kemudian kembali ke paganisme dihukum mati. Diperkirakan hingga seperempat populasi Saxon terbunuh dalam penaklukan agama yang dipaksakan ini.


Charlemagne memang terkenal sangat keras dan tanpa belas kasihan jika berhadapan dengan para lawannya. Namun ia sebenarnya adalah raja yang sangat bijak terutama dalam hal memodernisasi dan memajukan setiap aspek dalam sistem kerajaan.

Kebijakannya telah berdampak luas terhadap kemajuan di beberapa bidang seperti dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, seni, hingga sistem kepercayaan.


Dalam bidang ekonomi misalnya, ia telah membuat penyederhanaan sistem moneter dan menciptakan ekonomi terpadu, sehingga diharapkan perdagangan dapat berlangsung menjadi lebih mudah.


Di bidang pendidikan, Ia juga telah memperkenalkan sistem pembelajaran kepada bawahannya dengan mewajibkan paling tidak bisa membaca dan menulis, serta mendorong untuk menciptakan universitas yang modern.


Kegesitan pengambilan keputusan politik Charlemagne yang menjadi ciri khasnya ternyata macet begitu dia dihadapkan pada persoalan siapa yang akan menggantikan tahtanya. Kendati dia sudah menghabiskan sebagian besar masa hidupnya berpegang menyatukan sebagian besar daerah Eropa Barat, dia tidak mampu secara bijak menyusun perencanaan membagi wilayah kekaisaran diantara ketiga puteranya ketika dia mati. Yang jelas Charlemagne merupakan salah seorang Raja yang besar karena berbagai kebijakannya.



tanggapan kelompok terhadap komentar


  1. 1. Charlemagne adalah seorang raja yang berkuasa pada Abad Pertengahan dan merupakan salah satu pemimpin yang paling terkenal dalam sejarah. Berikut ini beberapa tambahan informasi dan tanggapan terhadap komentar kelompok 7. 1.Konsolidasi Kekuasaan: Charlemagne mewarisi kekuasaan dari ayahnya, Pippin si Cebol, dan setelah kematian saudaranya, ia berhasil mengambil kendali penuh atas kerajaan Frank. Ia kemudian melanjutkan untuk memperluas wilayah kekuasaannya melalui serangkaian kampanye militer.


  1. 2. Kebijakan Agama: Salah satu aspek penting dari pemerintahan Charlemagne adalah upayanya untuk memperluas pengaruh agama Kristen. Ia melakukan penaklukan terhadap Saxon, suku Jerman Utara, yang mempertahankan kepercayaan pagan mereka. Pada saat itu, Kristen dianggap sebagai agama yang dominan, dan Charlemagne mengharapkan semua orang Saxon untuk memeluk agama Kristen. Mereka yang menolak atau kembali ke paganisme dihukum mati. Hal ini menunjukkan campur tangan kuat pemerintah dalam urusan agama pada masa tersebut.


  2. 3. Kontribusi Budaya: Charlemagne dikenal karena peran aktifnya dalam memajukan seni, sastra, dan pendidikan di kerajaannya. Ia memperkenalkan sistem pendidikan yang lebih teratur dan mendorong perkembangan seni dan sastra, sehingga menciptakan lingkungan yang memungkinkan kemajuan budaya.


  3. 4. Reformasi Administrasi: Charlemagne juga terkenal karena upayanya dalam memodernisasi sistem administrasi kerajaan. Ia melakukan penyederhanaan sistem moneter dan menciptakan sistem hukum yang lebih teratur. Hal ini membantu memperkuat stabilitas ekonomi dan politik di kerajaannya.


  4. 5. Pemisahan Kekuasaan: Salah satu kelemahan Charlemagne adalah kegagalan dalam menyusun rencana suksesi yang jelas. Ketika ia meninggal pada tahun 814, tidak ada perjanjian yang jelas mengenai siapa yang akan menggantikan tahtanya. Hal ini menyebabkan konflik perebutan kekuasaan dan memunculkan perpecahan di antara ketiga putranya.


Sumber:


Einhard. "The Life of Charlemagne." The Internet Medieval Sourcebook. Fordham University. (https://sourcebooks.fordham.edu/basis/einhard.asp)


Barbero, Alessandro. "Charlemagne: Father of a Continent." University of California Press, 2004




Kelompok 8 : Auryn Zahra Choirunnisa Prameswari


komentar kelompok lain


Fakta-fakta tentang Charlemagne


Sebagai seorang penguasa abad pertengahan, Charlemagne memiliki 13 fakta yang ditulis oleh Allison C. Meier, antara lain:


1. Ayah Charlemagne bukan anak raja

Ayah Charlemagne, Pepin III, bukanlah anak raja. Pada masa kerajaan bangsa dipimpin klan Merovingian, Pepin III adalah kepala istana sebelum melemahnya otoritas klan Merovingian. Pepin III lalu mendeklarasikan dirinya sebagai raja Frank pada 751 M.


2. Kematian adik Charlemagne

Setelah kematian Pepin III, Charlemagne dan Carloman berbagi kekuasaan. Namun, pembagian kekuasaan tidak dilakukan secara ideal karena Carloman berusaha menggerogoti kekuasaan Charlemagne dengan dibuktikan ketidakmauan dirinya membantu Charlemagne mengatasi pemberontakan Aquitania pada 769 M. Dua tahun kemudian atau 771 M, Carloman mati mendadak secara misterius.


3. Charlemagne dikenal sebagai bapak Eropa

Sebagai raja bangsa Frank, Charlemagne berambisi untuk memperluas wilayah dibuktikan dengan banyak penaklukan. Pada saat kematiannya, kekuasaan Charlemagne mencakup wilayah yang pada masa kini adalah Eropa Barat dan sebagian Eropa tengah. Melalui penyatuan Eropa itu (meskipun lemah), Charlemagne mendapat julukan Bapak Eropa.


4. Charlemagne tidak menyangka akan dinobatkan sebagai Kaisar Romawi

Charlemagne sebenarnya tidak terlalu berambisi untuk menjadi Kaisar Romawi. Menurut Eigenhard, Charlemagne tidak menyangka dan tidak terlalu ingin dinobatkan menjadi Kaisar Romawi ketika berkunjung ke Roma untuk membantu persoalan yang sedang menimpa Paus Leo III pada tahun 800 M.


5. Musik gerejawi berkembang pesat pada masa Charlemagne

Charlemagne sangat menyukai musik gerejawi, khususnya musik liturgi Roma. Atas permintaannya, Paus Adrian I mengirim para pastor dari Roma ke istana Aachen untuk mengajar kelompok koor gereja di sana pada tahun 774 M. Lalu pada tahun 789 M, Charlemagne juga mengeluarkan dekrit untuk seluruh para pastor kekaisaran untuk mempelajari dan menyanyikan lagu-lagu Romawi atau disebut Cantus Romanus.


6. Banyak hal klasik yang diketahui berkat Charlemagne

Charlemagne merupakan penganut Katolik yang fanatik. Meskipun begitu, dia bersimpati kepada kebudayaan klasik pagan (para penyembah berhala). Dia juga meyakini kekaisarannya adalah penerus langsung kebudayaan Romawi. Pada saat penaklukkan, selain harta rampasan perang, pasukan Charlemagne juga membawa serta literatur Latin. Kemudian Charlemagne memerintahkan para rahib menyalin teks-teks kuno tersebut. Setelah Kekaisaran Charlemagne berakhir, biara-biara di Eropa masih mempelajari teks- teks salinan dari zaman Charlemagne.


7. Kurs uang distandarkan pada masa Charlemagne

Setelah Charlemagne menguasai Eropa barat, dia segera menyadari betapa pentingnya standarisasi kurs mata uang. Oleh karena itu, pemerintahan Charlemagne memproduksi dan mengenalkan pemakaian koin perak sebagai alat jual-beli di seluruh kekaisaran dan menjadi mata uang resmi pertama dalam sejarah Kekaisaran Romawi.


8. Pakaian Charlemagne yang merakyat

Menurut Eigenhard, Charlemagne lebih suka memakai pakaian yang sama dengan pakaian orang Frank kebanyakan yang berupa mantel biru yang membungkus tunikanya, baju dari kain linen, dan berkaus kaki panjang. Tak lupa pula dengan pedang yang disarungkan pada sabuk dari emas atau perak. Untuk situasi khusus, dia menyandang pedang yang dihiasi permata. Lebih lanjut, Charlemagne juga tidak terlalu menyukai orang yang berpakaian serba mewah.


9. Charlemagne mempunyai banyak istri dan anak

Charlemagne menikahi 5 perempuan dan memiliki beberapa selir. Maka dari itu, tak heran jika dia memiliki 18 anak. Meskipun begitu, dia sangat mencintai anak-anaknya dan mendorong semua anaknya berpendidikan.


10. Kekalahan utama Charlemagne diabadikan dalam puisi

Charlemagne melakukan upaya penaklukan pertamanya atas Spanyol yang berujung fatal dan tercatat sebagai satu-satunya kekalah terberat selama dirinya berperang. Kemudian kekalahan tersebut diabadikan oleh Roland dalam puisi epos Zaman Pertengahan yang diberi judul Chanson de Roland, salah satu karya sastra Prancis tertua.


11. Namanya sekarang berarti “raja”

Charlemagne yang bisa diartikan “Karl di Jerman” merupakan nama pemberian orang tuanya untuk menghormati nama kakeknya, Charles Martel, dan berasal dari bahasa Jerman yang artinya “orang bebas”. Sementara kata “kerl” dalam bahasa Jerman diartikan sebagai “anak lelaki”, di bahasa keseluruhan Eropa ada jejak dari pengaruhnya untuk kata-kata yang merujuk kepada “raja”. Nama Charles bahkan menjadi nama depan yang umum sekarang ini.


12. Perintah pembunuhan massalnya menjadi propaganda nazi

Charlemagne berperang dengan bangsa Sakson (kini Jerman barat laut) selama sekitar tiga dekade. Yang paling banyak dicatat adalah perintah pembantaiannya terhadap 4.500 orang Sakson pada tahun 782. Di dalam kekuasaannya, penyembah berhala (pagan) yang tak mau memeluk Kristen juga dibunuh. Pembantaian massal oleh Charlemagne itu diingat kembali pada abad ke-20 ketika Nazi membangun monumen batu yang disebut Sachsenheim Memorial pada tahun 1935. Kemudian, Nazi merayakan ulang tahun ke 1.200 Charlemagne yang disebut sebagai simbol superioritas Jerman. Selain itu, satuan tentara Prancis yang tergabung dalam Schutzstaffel (SS) Jerman selama Perang Dunia II juga diberi nama Resimen Charlemagne.


13. Kekaisaran Runtuh bersama kematian Charlemagne

Setelah kematian Charlemagne, kekaisaran tak bisa bertahan lama. Selain tak ada kaisar setelahnya yang memiliki kewibawaan seperti Charlemagne, tradisi bangsa Franka yang mewariskan kekuasaan ke anak-anak lelaki. Louis Si Bijak, satu-satunya anak lelaki dan pengganti Charlemagne memerintah selama sekitar 26 tahun. Dia meninggal pada 840 dan kekuasaan dibagi untuk ketiga anak lelakinya. Tak lebih dari satu abad, Kekaisaran Charlemagne runtuh.



tanggapan kelompok terhadap komentar


Berdasarkan komentar dari kelompok 8, kami akan memberikan tambahan informasi mengenai kekalahan Charlemagne yang diabadikan dalam puisi.

Kekalahan utama Charlemagne yang diabadikan dalam puisi adalah peristiwa yang tercatat dalam Chanson de Roland. Chanson de Roland adalah salah satu karya sastra epik tertua dalam bahasa Prancis yang bercerita tentang Pertempuran Roncevaux pada tahun 778 M.


Pada Pertempuran Roncevaux, pasukan Charlemagne yang dipimpin oleh Comte Roland dari Bretagne diserang oleh pasukan Basque di Lembah Roncevaux di Pegunungan Pyrenees. Pasukan Charlemagne mengalami kekalahan yang cukup besar, dan dalam pertempuran itu, Comte Roland terbunuh.


Puisi Chanson de Roland, yang ditulis pada abad ke-11, menggambarkan pertempuran tersebut dengan epik dan memberikan penghormatan kepada Roland sebagai pahlawan yang gagah berani. Puisi ini menggambarkan Roland dan para ksatria Frank yang melawan pasukan Basque yang jauh lebih besar dengan keberanian dan keteguhan iman mereka. Kekalahan mereka di Roncevaux menjadi bagian dari mitos dan legenda Charlemagne yang terus diceritakan dalam sastra Eropa.


Sumber:


Owen, D.D.R. (ed.). The Song of Roland. Translated by Glyn S. Burgess and Keith Busby. Penguin Classics, 1990.

Suard, François. "The Song of Roland." Encyclopædia Britannica, Encyclopædia Britannica, Inc., 24 Feb. 2020, www.britannica.com/topic/The-Song-of-Roland 



Kelompok 9 : Natasya Puspa Dewi


komentar kelompok lain


Seperti yang sudah dijelaskan oleh Kelompok 2, pada abad pertengahan ini adanya penggunaan gelar-gelar yang diberikan kepada bangsawan seperti Duke/Duchess, Count/Countess, Prince/Princess dan lain-lainnya. Banyak gelar ini masih digunakan pada beberapa negara yang menerapkan sistem pemerintahan monarki. Dibalik nama yang berharga ini, ada beberapa hak yang didapatkan kepada para pemegangnya. Seperti hak Suo Jure umumnya ditemukan pada konteks gelar bangsawan yang dimiliki seorang wanita dalam haknya sendiri daripada melalui pernikahan. Kemudian, hak Jure Uxoris, dimana ini hak yang didapatkan laki-laki ketika sang istri memiliki gelar bangsawan atau kerajaan atas namanya sendiri. Jure Matris adalah sebuah hak yang didapatkan dari sang ibu pemegang gelar tersebut dan diturunkan kepada anak-anaknya. Dan terakhir, Consort, adalah sebuah hak dimana seorang wanita mendapatkan gelar hanya sebatas melalui pernikahan.


Pada abad pertengahan ini, agama berkembang pesat dan mempengaruhi hampir seluruh kegiatan manusia, termasuk pemerintahan. Sebagai konsekuensinya, ilmu pengetahuan yang telah berkembang di masa zaman klasik dipinggirkan dan dianggap lebih sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari ketuhanan. Gereja serta para pendeta mengawasi pemikiran masyarakat serta juga politik. Mereka berpendapat hanya gereja saja yang layak untuk menentukan kehidupan, pemikiran, politik dan ilmu pengetahuan. Akibatnya kaum cendekiawan yang terdiri daripada ahli-ahli sains asa mereka ditekan dan dikawal ketat. Pemikiran mereka ditolak. siapa yang mengeluarkan teori yang bertentangan dengan pandangan gereja akan ditangkap dan didera malah ada yang dibunuh.


Kehidupan yang dimiliki oleh masyarakat era ini juga tidak memiliki mutu hidup yang baik. Banyak sekali masalah yang berkaitan dengan pendidikan dan sanitasi, yang dimana merujuk pada suatu pandemi besar di Eropa, yaitu Black Death. Black death atau maut hitam adalah suatu pandemi hebat yang pertama kali melanda Eropa pada pertengahan hingga akhir abad ke-14 (1347–1351) dan membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa. Black death di Eropa pertama kali dilaporkan berada di Kota Caffa yang berada di Krimea pada tahun 1347. Black death mengubah populasi Eropa serta mengubah struktur sosial Eropa secara drastis. Wabah ini mengakibatkan perburuan dan pembunuhan terhadap kaum minoritas seperti Yahudi, pendatang, pengemis, serta penderita lepra.



tanggapan kelompok terhadap komentar


Berdasarkan komentar dari kelompok 8, kami memberikan tambahan informasi sebagai berikut.

Pada abad pertengahan, penggunaan gelar-gelar bangsawan dan hak-hak terkaitnya memang memiliki peranan penting dalam sistem pemerintahan monarki. Gelar-gelar tersebut memberikan status sosial dan keistimewaan kepada para pemegangnya. Hak-hak seperti Suo Jure, Jure Uxoris, Jure Matris, dan Consort memperlihatkan kompleksitas hubungan kekerabatan dan pewarisan gelar dalam masyarakat bangsawan pada waktu itu.


Terkait dengan pengaruh agama pada abad pertengahan, memang benar bahwa gereja dan para pendeta memiliki kekuasaan yang besar dalam mengawasi pemikiran dan politik masyarakat. Ilmu pengetahuan yang tidak sesuai dengan pandangan gereja seringkali ditolak atau bahkan dianggap sebagai ilmu sihir. Hal ini mengakibatkan penindasan terhadap cendekiawan dan ahli sains yang memiliki pandangan berbeda. Beberapa dari mereka bahkan dihukum atau dibunuh karena dianggap bertentangan dengan ajaran gereja.


Kehidupan pada abad pertengahan juga dipengaruhi oleh berbagai masalah, termasuk pendidikan dan sanitasi yang buruk. Pandemi Black Death menjadi salah satu peristiwa paling signifikan pada periode tersebut. Pandemi ini pertama kali dilaporkan di Kota Caffa di Krimea pada tahun 1347 dan menyebar dengan cepat di seluruh Eropa, menyebabkan kematian massal dan perubahan sosial yang drastis. Dampaknya termasuk perburuan dan pembunuhan terhadap kelompok minoritas yang dicurigai sebagai penyebab wabah, seperti Yahudi, pendatang, pengemis, dan penderita lepra.


Sumber:


"Medieval Titles and Ranks in the Nobility" - Medievalists.net. Diakses pada 25 Mei 2023. URL: https://www.medievalists.net/2017/03/medieval-titles-and-ranks-in-the-nobility/ 

"Medieval Science and Philosophy" - Encyclopedia Britannica. Diakses pada 25 Mei 2023. URL: https://www.britannica.com/science/physical-science/Medieval-science-and-philosophy 

"The Black Death" - History.com. Diakses pada 25 Mei 2023. URL: https://www.history.com/topics/middle-ages/the-black-death 





Kelompok 10 : Raditya Bhanu Aryasatya


komentar kelompok lain


Upaya Charlemagne Menyatukan Dataran Franks (France)


Kiprah Charlemagne selama 30 tahun, dari penyatuan wilayah seluruh kerajaan bangsa Franka, perluasan wilayah dengan penaklukan, hubungan baiknya dengan Kepausan termasuk menguasai Lombardia dengan menjadikan dirinya Raja Lombardia itu dicatat sejarawan sebagai jalan menuju puncak kebesarannya. Puncak kebesaran itu adalah ketika dirinya ditahbiskan sebagai Kaisar Romawi pada Hari Natal tahun 800 M. Dia sering disebut sebagai Kaisar Romawi Suci karena pengukuhannya sebagai kaisar dilakukan oleh Paus Leo III Kekaisarannya bahkan disebut sebagai Kekaisaran Kristen. Pada tahun 799 M, Paus Leo III mendapat serangan kekerasan dari beberapa orang Roma. Matanya akan dicungkil dan telinganya akan dipotong. Untuk menyelamatkan diri, dia pergi meminta bantuan ke Charlemagne yang saat itu ada di Paderborn (kini kota di Jerman). Alcuin, tokoh terpelajar menyarankan Charlemagne untuk segera pergi ke Roma. Pada November 800 M, Charlemagne memenuhi nasihat itu dan menggelar sebuah sidang sinoda (sidang gereja) membahas konflik Paus Leo III dengan orang-orang Roma. Pada 23 Desember 800 M, Paus bersumpah di hadapan Charlemagne bahwa dirinya tak bersalah. Pada saat itu, otoritas kekuasaan Paus disebut para ahli sedang melemah. Karena itu, pada Misa Natal 800 M di Basilika Santo Petrus, pada saat Charlemagne berlutut di altar untuk berdoa, Paus mengukuhkan lelaki itu sebagai Imperator Romanorum (Kaisar Romawi).Penahbisan Charlemagne itu secara langsung mengindikasikan bahwa Paus menolak kekuasaan kekaisaran yang dipegang Kaisar Perempuan Irene Konstantinopel yang naik takhta pada 797 M. Karena Irene Konstantinopel merupakan penganut Kristen Katolik Ortodoks, penahbisan Charlemagne sekaligus pengukuhan dominasi Kristen Katolik Roma.


Konsekuensi dari peristiwa itu adalah Kekaisaran Kristen terbagi dua, timur (ortodoks) dan barat (Roma) yang memunculkan konflik laten dan berujung perang pada 802 M.Tak hanya itu, selama beberapa abad kemudian, selalu terjadi perseteruan Kekaisaran Kristen Timur dan Barat. Tapi para sejarawan modern menegaskan bahwa Charlemagne menyadari mengenai rencana penobatan itu karena dia melihat mahkota di altar, mahkota yang akhirnya disematkan ke kepalanya pada saat dia berlutut untuk berdoa. Perdebatan selama berabad-abad mengenai peristiwa itu tak berhenti hanya pada pertanyaan apakah sebenarnya Charlemagne menyadari maksud Paus Leo III, tapi juga pertanyaan mengapa Paus memberi gelar itu kepada Charlemagne dan mengapa lelaki itu menerimanya. Kehebatan Charlemagne khususnya dalam ekspedisi militer justru menurun setelah dirinya menjadi Kaisar Romawi. Beberapa sejarawan bahkan mencatat masa itu sebagai periode penuh krisis. Dia yang menua tak lagi melakukan ekspedisi militer yang menghasilkan kemenangan gilang-gemilang. Begitu pula, kesetiaan pendukungnya pun menurun. Padahal pada saat itu, ancaman dari luar nyata terlihat, khususnya dari orang-orang utara yang dikenal sebagai kaum Viking dan pasukan Saracen (muslim). Begitu pula terjadi kelemahan dalam struktur pemerintahan. Para pemimpin gereja juga bersifat resisten terhadap kekuasaan kekaisaran. Itu dikarenakan posisi politik, sosial, dan ekonomi mereka menanjak berkat pemberian tanah oleh kekaisaran dan hak imunitas (kekebalan hukum) yang mereka miliki.


Beberapa sejarawan lainnya justru mencatat beberapa hal bagus selama masa-masa akhir kekuasaan Charlemagne. Beberapa hal itu antara lain penguatan administrasi kekaisaran, diplomasi yang aktif, dan terus-menerus mengembangkan reformasi agama, serta upaya serius mendukung pembaharuan kebudayaan. Paling menarik dicatat adalah ketika Charlemagne mengembalikan gelar untuk dirinya sendiri, yaitu gelar sebelum dia dinobatkan Paus sebagai Kaisar Romawi Kristen. Pada tahun 802 M, dia kembali memakai gelar “Raja Franka dan Lombardia”. Dia bahkan hidup dengan tetap melanjutkan gaya hidup tradisional ala bangsa Franka dengan mengabaikan protokoler yang berkaitan dengan tata laku seorang kaisar. Charlemagne juga tak terlalu memerdulikan saran para penasihat agar sang kaisar melakukan apapun untuk menghidupkan ideologi Kekaisaran Romawi. Dia bahkan mengabaikan aturan kekaisaran tentang penunjukan gelar dan pembagian warisan seperti yang sudah dilakukan kekaisaran selama berabad-abad. Berdasarkan sumber lain terdapat tambahan sedikit informasi mengenai Charlemagne yang memaksa rakyat dan para bawahannya untuk memeluk agama Kristen Katolik Roma, jika tidak ada yang memeluk atau menolak untuk memeluk agama tersebut akan dipastikan bahwa ia akan dihukum mati. Charlemagne tetap bersandar pada tradisinya, khususnya dalam pembagian warisan. Itu terbukti pada tahun 806 M, dia mengeluarkan dekrit bahwa setelah dirinya meninggal, wilayah kekaisaran akan dibagi di antara tiga anak lelakinya. Meskipun begitu, ada bukti yang menunjukkan bahwa gelar kekaisaran sangat penting bagi Charlemagne. Pada akhirnya Charlemagne mau terlibat dalam ekspedisi militer dan diplomasi dan pada tahun 812 M statusnya diakui oleh Kekaisaran Timur di Konstantinopel. Pentingnya status kekaisaran dengan berusaha melepaskan persepsi bahwa itu pemberian Paus semakin jelas pada saat dia menobatkan anak lelaki satu-satunya yang hidup pada 813 M, Louis Si Saleh. Penobatan itu bukti bahwa Charlemagne ingin menegaskan bahwa gelar kaisar adalah hadiah personal karena dirinya telah menjadi Pelayan Kristen dan dengan demikian dia bisa memberikan gelar itu kepada anaknya. Namun dari ketiga anaknya tersebut hanya tersisa satu yaitu Louis dikarenakan dua orang saudaranya wafat sehingga posisi pewaris tahta kekaisaran akan jatuh kepadanya.


Berdasarkan sumber lain mengatakan bahwa, pada awal masa kepemimpinan Ludwig atau

Louis putra dari Charlemagne, ia menerapkan kebijakan mata uang dengan meniru potret sang ayahanda Karel Agung atau Charlemagne dengan gambaran bahwa seolah-olah gambar tersebut adalah gambaran kekuasaan Kekaisaran Prestise. Louis memiliki tiga orang putra di antaranya Lothair, Pippin dan Ludwig si Jerman, dengan demikian jika salah satu raja bawahan meninggal, maka kebijakan Louis selanjutnya adalah dengan menggantikan posisi raja bawahan tersebut dengan mengisi kemahkotaan kerajaan dengan nama anaknya. Dengan upaya tersebut, Louis akan berusaha menggabungkan rasa persatuan antar kerajaan bawahan dengan kekaisaran yang berada di posisi atas sebagai otoritas tertinggi.



tanggapan kelompok terhadap komentar


Dari komentar yang telah diberikan, kami akan memberikan informasi tambahan sebagai berikut.

1. Charlemagne memainkan peran penting dalam penyatuan wilayah Dataran Franks dan ekspansi kekuasaan. Melalui penaklukan dan hubungan baik dengan Kepausan, dia berhasil memperluas wilayah dan menguasai Lombardia, sehingga mencapai puncak kebesarannya.

2. Penobatan Charlemagne sebagai Kaisar Romawi pada tahun 800 M oleh Paus Leo III menandai pengukuhan kekuasaannya. Charlemagne dianggap sebagai Kaisar Romawi Suci karena penobatannya dilakukan oleh Paus, dan kekaisarannya dianggap sebagai Kekaisaran Kristen.

3. Konsekuensi dari penobatan Charlemagne sebagai Kaisar Romawi adalah terbaginya Kekaisaran Kristen menjadi dua bagian, Timur (ortodoks) dan Barat (Roma), yang menghasilkan konflik dan perang pada tahun 802 M.

4. Terdapat perdebatan mengenai apakah Charlemagne menyadari maksud Paus Leo III dalam penobatannya. Namun, beberapa sejarawan mencatat bahwa Charlemagne menyadari dan menerima penobatan itu, terlihat dari tindakannya yang melanjutkan gaya hidup tradisional dan menggunakan gelar "Raja Franka dan Lombardia" setelah penobatan.

5. Selama masa kekaisaran Charlemagne, terjadi kelemahan dalam struktur pemerintahan, penurunan kehebatan dalam ekspedisi militer, dan resistensi dari pemimpin gereja terhadap kekuasaan kekaisaran. Meskipun demikian, beberapa sejarawan mencatat beberapa pencapaian positif, seperti penguatan administrasi, diplomasi aktif, reformasi agama, dan dukungan terhadap pembaharuan kebudayaan.

6. Charlemagne juga memaksa rakyat dan bawahannya untuk memeluk agama Kristen Katolik Roma, dengan ancaman hukuman mati bagi mereka yang menolak. Hal ini menjadi bagian dari upaya Charlemagne untuk memperkuat dominasi Kekaisaran Romawi Kristen.

7. Setelah Charlemagne, putra tunggalnya, Louis, menjadi pewaris tahta. Louis menerapkan kebijakan mata uang dengan meniru potret ayahnya, Charlemagne, untuk menggambarkan kekuasaan Kekaisaran Prestise. Ia juga mengadopsi kebijakan penggantian raja bawahan yang meninggal dengan mengangkat salah satu anaknya sebagai pengganti, dengan tujuan memperkuat persatuan antara kerajaan bawahan dan kekaisaran.


Sumber:


McKitterick, Rosamond.Charlemagne: The Formation of Europe Rosamond McKitterick

Barbero, Alessandro.Charlemagne: Father of a Continent.



Kelompok 11 : Sekar Ramadhanti


komentar kelompok lain


Kami ingin menambahkan sedikit seputar akhir hayat dari Charlemagne. Diakhir hidupnya Charlemagne sehat-sehat saja hingga 4 tahun akhir hidupnya. Di 4 tahun terakhir Charlemagne mulai sakit-sakitan, ia sering demam dan pincang. Para dokter dan penasehat nya sudah menyarankan agar Charlemagne berhenti mengkonsumsi daging panggang namun Charlemagne tidak mau mendengarkan nasihat para dokter karena daging panggang merupakan makanan favoritnya.


Setelah kematian Charlemagne, kekaisaran tak bisa bertahan lama. Selain tak ada kaisar setelahnya yang memiliki kewibawaan seperti Charlemagne, tradisi bangsa Franka yang mewariskan kekuasaan ke anak-anak lelaki.



tanggapan kelompok terhadap komentar


Berdasarkan komentar yang telah diberikan, kami akan memberikan tambahan informasi sebagai berikut.

Setelah kematian Charlemagne, kekaisarannya mengalami kemunduran dan tidak bisa bertahan dalam bentuk yang sama. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap penurunan kekaisaran setelah Charlemagne antara lain:

1. Kekaisaran yang tidak memiliki pemimpin yang memiliki kewibawaan seperti Charlemagne. Karisma dan kepemimpinan yang kuat dari Charlemagne sulit untuk direplikasi oleh penerusnya.

2. Tradisi suksesi di bangsa Franka yang mewariskan kekuasaan ke anak laki-laki. Setelah kematian Charlemagne, tak ada pewaris yang mampu mempertahankan kekuasaan dan stabilitas yang sama seperti yang dicapai olehnya.


Dengan faktor-faktor ini, kekaisaran Charlemagne secara perlahan mulai melemah dan kekuasaan kerajaan Franka terpecah menjadi banyak wilayah kecil yang diperintah oleh berbagai pemimpin lokal.


Sumber:


McKitterick, Rosamond. Charlemagne: The Formation of Europe 




Dapat disimpulkan bahwa pada periode abad pertengahan ditemukan banyak peristiwa penting yang berpengaruh besar dalam sejarah kepemerintahan Prancis. Terdapat banyak kemajuan dan kemunduran yang disebabkan banyak faktor salah satunya mengenai keyakinan agama. Terjadinya invasi, krisis politik, dan perpindahan dinasti. Tokoh penting seperti Clovis, Pépin le Bref, Charlemagne, dan lainnya ada dalam periode ini. Sistem pemerintahan baru dimulai pada periode ini. Serta masih banyak lagi peristiwa yang dapat dijadikan pembelajaran dalam ilmu pemerintahan.

Sekian informasi yang dapat penulis cantumkan dalam blog ini. Kami berharap informasi dalam blog ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kami sebagai penulis meminta maaf apabila dalam penyusunan blog ini masih terdapat kekurangan.